UNE PERSONNE AU BOUT DE LA RUE: MELANGKAH MENINGGALKAN MASA LALU[1]

 In blog

Dear past, thank you for your lessons.

Dear future, I’m ready.

Dear God, thank you for another chance.—anonymous

 

Pernah enggak, sih, kepikiran tentang masa lalu? Saya pernah. Mungkin sering. Namanya juga manusia, tentunya punya masa lalu yang kadang enggak bisa dilupakan. Ada yang baik hingga membuat saya bersyukur, ada yang biasa aja dan memiliki kecenderungan gampang dilupakan, atau yang buruk dan yang paling susah dilupakan. Di antara masa lalu itu, yang paling ganggu banget tentunya masa lalu yang buruk. Ketika tiba-tiba ingat, saat itu juga saya langsung merasa enggak nyaman dengan diri saya sendiri dan meyakinkan bahwa saya akan baik-baik saja.

 

Saya pernah membaca kisah sepasang kekasih yang saling jatuh cinta. Si cewek percaya banget bahwa si cowok adalah soulmate-nya, begitu pun sebaliknya. Mereka memiliki mimpi bersama dan siap untuk merajut masa depan bareng-bareng. Nyatanya, impian kadang enggak sesuai kenyataan. Bukan karena mereka tiba-tiba putus dan merasakan hubungan yang hambar. Bukan karena salah satu dari mereka mengkhianati cinta masing-masing. Bukan karena kedua itu. Tapi, si cowok harus menghadap Penciptanya gara-gara kecelakaan. Si cewek patah hati. Dia merana karena kehilangan sosok yang begitu dia cintai. Hingga suatu saat dia memutuskan bahwa dia enggak akan jatuh cinta lagi karena dia masih sayang dengan cowoknya dan tentunya dia enggak mau mengalami patah hati lagi.

 

Konon, masa lalu itu bisa membentuk sikap atau pandangan hidup seseorang pada masa sekarang. Disadari atau tidak, masa lalu memiliki andil untuk menentukan sikap kita dalam melangkah. Seperti sikap cewek tadi yang memutuskan untuk mengakhiri kisahnya dalam jatuh cinta. Cukup cintanya untuk sang cowok yang sudah tiada. Sedih, ya?

 

Namun, apa benar masa lalu itu bisa membuat seseorang terjebak, susah untuk bergerak, dan membentuk sikap seseorang pada masa sekarang? Amy Morin—seorang terapis dan pembicara di Ted Talks—pernah menceritakan kisah hidupnya yang getir hingga ia berada di satu titik, “Kenapa hidup saya seperti ini? Kenapa sih saya harus kehilangan orang-orang yang saya sayang? Kok, hidup enggak adil banget.” Sebagai seorang terapis, Amy Morin mungkin tahu cara mengatasi pikiran-pikiran seperti itu. Tapi, antara tahu ilmunya dan mengalami langsung ternyata enggak bisa disamain. Tentu, bisa saja dia tenggelam terus-terusan dengan masa lalunya dan mungkin tertahan di sana. Namun, ia memilih untuk bergerak dan melewati masa-masa suramnya dengan melakukan berbagai aktivitas, berhenti membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain, dan menjauhkan ketidaknyamanan terhadap diri sendiri alias merana. Masa lalu yang suram bukan untuk diratapi, tapi diambil sebagai pembelajaran. Seperti kata Beyonce Knowles, embrace your past, but live for now.

Berbicara ketidaknyamanan terhadap diri sendiri, saya teringat sosok Daiva dalam novel Une Personne Au Bout De La Rue karya Yayan D yang diterbitkan oleh KataDepan tahun 2017. Tokoh Daiva adalah perempuan yang hampir berusia 30 tahun, lajang, dan memiliki pekerjaan sebagai sekretaris di sebuah perusahaan. Ia merupakan perempuan cerdas, menyenangkan untuk diajak ngobrol dan berteman. Mungkin orang-orang menganggapnya galak, tetapi saya menilai bahwa dia itu ceplas-ceplos. Di antara kehidupannya yang kelihatan baik-baik saja, ia merana. Apa sebab? Adik perempuannya yang baru lulus kuliah akan segera menikah dan ia masih berada dalam kehidupannya sebagai seorang jomlowati setelah sang pacar yang sudah lima tahun menjalin hubungan dengannya malah memilih perempuan lain.

 

Lalu, Daiva bertemu dengan sosok Tristan yang awalnya dikira stalker dan ternyata adalah bos barunya. Tristan adalah sosok yang tampan, cerdas, tipikal laki-laki mapan dan masih cukup muda—usianya tidak terlalu jauh dengan Daiva. Ia memiliki tunangan bernama Karin yang cantik aduhai hingga dia merasa bahwa mereka adalah pasangan serasi. Dia juga sayang kepada keluarganya, apalagi kedua ponakannya yang menjadi yatim piatu: Maura dan Randall.

 

Di samping hubungan pekerjaan, tanpa disadari Daiva dan Tristan menjadi dekat karena seringnya Tristan mengantar Daiva pulang, minum kopi bareng, dan kedekatan Daiva dengan kedua ponakan Tristan. Hingga suatu kali, muncullah rahasia masa lalu yang disimpan oleh Maura terhadap sosok Karin—tunangan Tristan. Di sisi lain, cinta pertama Daiva muncul, yaitu Luc yang telah lama mencari dia. Antara Tristan dan Daiva muncul kegalauan dalam kehidupan cinta masing-masing hingga pada satu titik mereka memutuskan untuk melangkah bersama menuju masa sekarang dan masa depan dengan meninggalkan masa lalu. Ironisnya, masa lalu tetap datang menghantui jejak mereka. Kesalahpahaman pun terjadi. Yang dibutuhkan mungkin kejernihan pikiran Daiva dan Tristan untuk kembali melangkah dan belajar dari masa lalu.

 

Kisah Daiva dan Tristan ini bisa dibilang membuat saya kepikiran dengan diri saya sendiri. Galaunya saya mungkin sama dengan Daiva, tanpa adanya sosok Tristan. Tapi, saya lebih optimis dibanding Daiva walau belum semujur dia dalam mendapatkan sosok Tristan yang kayaknya mirip Hamish Daud—kesayangannya Raisa :D. Daiva di sini lebih banyak berprasangka dan mungkin lebih menutup dirinya setelah beberapa kali patah hati dan itu yang membuatnya ragu-ragu untuk melangkah. Dia begitu defensif. Padahal, seperti yang dikatakan Amy Morin, masa lalu yang suram memang harus dilalui, tetapi jangan sampai tenggelam. Pastikan kita bisa melangkah karena masa lalu tidak mendefinisikan siapa kita sekarang.

 

Une Personne Au Bout De La Rue ini merupakan kisah yang cantik, seperti kisah dongeng, dan mungkin membuat saya berharap bertemu sosok Tristan. Menarik tentunya dengan gaya bercerita yang ringan dan enak dibaca. Bahkan, ada bagian-bagian lucu yang membuat saya tertawa. Jangan kaget bahwa kisah Daiva dan Tristan ini termasuk cerita populer di Wattpad dan sudah dibaca lebih dari 4 juta kali. Wow!

 

Kamu penasaran? Segera temukan dan bawa pulang buku Une Personne Au Bout De La Rue yang sudah beredar di toko buku-toko buku terdekat.

 

 

[1] Catatan dari @nulur untuk booktour katadepan

Recent Posts

Leave a Comment

Hubungi Redaksi

Kamu dapat mengirimkan pesan email ke redaksi KataDepan lewat kotak ini.

Not readable? Change text.

Start typing and press Enter to search