Karena Takdir Memang Begitu, Bukan?

 In blog

Sebuah Catatan untuk Novel Wedding Debt

Daru dan Rai adalah teman SMA, keduanya adalah siswa aktif yang populer. Daru adalah pemimpin redaksi majalah di sekolahnya, sementara Rai adalah bintang klub basket. Suatu ketika, keduanya bertemu dalam kegiatan yang sama. Senyum manis Daru membuat Rai jatuh cinta. Sementara, Rai yang ramah dan menyenangkan saat diajak bicara membuat luluh hati Daru.

Tahun berganti, mereka lulus SMA, dan keduanya masih saling menyetia berpegang tangan. Meski berbeda kampus, Rai selalu menyempatkan untuk bertemu dengan Daru, mengantarkannya beraktivitas, menunggunya selesai kuliah, makan siang bersama, atau sekadar duduk di tepi danau di kampus mereka. Bagi teman-temannya mereka adalah pasangan impian. Keduanya seolah sudah ditakdirkan untuk satu sama lain.

Namun, takdir memang begitu, bukan? Saat kau merasa bisa menerka ujungnya, dia berbalik menjelma tikungan tajam, bisa saja membuatnya tersuruk dan luka, bisa juga membuatmu berdiri lagi dengan lebih tegap.

Begitupula Daru dan Rai. Setelah delapan tahun bersama, setelah kuliah diselesaikan, mereka sama-sama mulai sibuk dengan kantor masing-masing. Di kantor, Daru lebih sering berjumpa Dimas, senior di kantornya yang diam-diam juga menyimpan suka.  Dalam waktu tiga bulan sejak Daru bergabung di kantor itu, semuanya berubah. Dia meninggalkan Rai, dan meyakinkan hatinya kalau Dimas-lah ternyata pasangan hatinya. Mereka menikah lima bulan selah perkenalan pertama mereka.

Bagaimana dengan Rai? Tentu saja, Rai menyalahkan takdir, dia pikir, takdirlah yang menyeretnya ke dalam luka yang dalam. Berbulan-bulan, dia habiskan hanya untuk mengandaikan agar semuanya tak pernah terjadi. Andai dia tak perlu jatuh cinta kepada Daru, andai Daru tak perlu menerima tawaran pekerjaan di kantor itu. Andai, andai takdir bekerja dengan tepat.

Saat itulah dia bertemu Aini. Perempuan manis, berlesung pipit. Perempuan yang membuat luka di hati Rai terasa hilang dengan cepat. Perempuan yang menggantikan bayang-bayang Daru. Jatuh cinta kepada Aini, terasa lebih menenteramkan bagi Rai. Dan, Rai tak mau kehilangan. Dua bulan setelahnya, mereka menikah.

Keduanya, Daru dan Rai berbahagia hingga kini. Lalu, takdir yang mana yang tidak tepat?

Percayalah, takdir bekerja dalam waktu yang tepat. Kita hanya harus percaya, hal-hal indah, akan terjadi pada waktunya. Menjadi terluka boleh saja, tetapi tak perlu berlarut-larut. Karena dalam perjalanan takdir, luka-luka hanyalah jalan untuk mencapai bahagia.

Seperti Daru dan Rai, begitu pula Kinan dan Danny dalam Wedding Debt. Kinan merasa takdir sama sekali tak memihak kepadanya. Dia mencintai Danny, tak ada yang salah dengan hubungan mereka, tetapi tiba-tiba takdir membelokkan arahnya, Kinan terpaksa menikah dengan Prasasti—laki-laki asing entah siapa.

Namun, bagaimanapun Kinan membenci takdirnya, seperti Rai, dia tidak pernah tahu bagian bahagia seperti apa yang sedang disimpan di ujung jalan. Kinan seperti kamu, mungkin, yang merasa kalau takdir kadang hanya membawa luka, dan terlalu sulit untuk diterka.

Cerita Kinan dalam Wedding Debt membuktikan kalau takdir akan bekerja pada waktu yang tepat.

Ada simpul-simpul akhir bahagia yang menunggu, jika kau dan aku mau percaya.

Kinan dalam Weding Debt berusaha untuk percaya meski sangat sulu. Kamu percayakah?

Temukan kisahnya dalam Wedding Debt: Karena cinta tak bisa terbayar lunas karya RatinatiF

 

sumber foto: unsplash.com @jenelle ball

Recent Posts

Leave a Comment

Hubungi Redaksi

Kamu dapat mengirimkan pesan email ke redaksi KataDepan lewat kotak ini.

Not readable? Change text.

Start typing and press Enter to search